1. Latar Belakang
Perkembangan zaman yang begitu pesat tetapi tidak dibarengi dengan peningkatan sumber daya manusia yang berkualitas (SDM), sehingga menyebabkan kurangnya daya saing bangsa terhadap kemajuan dunia. Tidak bisa dipungkiri bahwa dengan memiliki SDM yang berkualitas bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang diperhitungkan ditengah-tengah persaingan global. Globalisasi yang sudah pasti dihadapi oleh bangsa Indonesia menuntut adanya efisiensi dan daya saing dalam dunia usaha. Dalam globalisasi yang menyangkut hubungan intraregional dan internasional akan terjadi persaingan antarnegara. Indonesia dalam kancah persaingan global menurut World Competitiveness Report menempati urutan ke-45 atau terendah dari seluruh negara yang diteliti, di bawah Singapura (8), Malaysia (34), Cina (35), Filipina (38), dan Thailand (40).
Terkait dengan kondisi sumber daya manusia Indonesia yaitu adanya ketimpangan antara jumlah kesempatan kerja dan angkatan kerja. Jumlah angkatan kerja nasional pada krisis ekonomi tahun pertama (1998) sekitar 92,73 juta orang, sementara jumlah kesempatan kerja yang ada hanya sekitar 87,67 juta orang dan ada sekitar 5,06 juta orang penganggur terbuka (open unemployment). Angka ini meningkat terus selama krisis ekonomi yang kini berjumlah sekitar 8 juta.
Kedua, tingkat pendidikan angkatan kerja yang ada masih relatif rendah. Struktur pendidikan angkatan kerja Indonesia masih didominasi pendidikan dasar yaitu sekitar 63,2 %. Kedua masalah tersebut menunjukkan bahwa ada kelangkaan kesempatan kerja dan rendahnya kualitas angkatan kerja secara nasional di berbagai sektor ekonomi. Lesunya dunia usaha akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan sampai saat ini mengakibatkan rendahnya kesempatan kerja terutama bagi lulusan perguruan tinggi. Sementara di sisi lain jumlah angkatan kerja lulusan perguruan tinggi terus meningkat. Sampai dengan tahun 2000 ada sekitar 2,3 juta angkatan kerja lulusan perguruan tinggi. Kesempatan kerja yang terbatas bagi lulusan perguruan tinggi ini menimbulkan dampak semakin banyak angka pengangguran sarjana di Indonesia.
Rendahnya SDM Indonesia diakibatkan kurangnya penguasaan IPTEK, karena sikap mental dan penguasaan IPTEK yang dapat menjadi subyek atau pelaku pembangunan yang handal. Dalam kerangka globalisasi, penyiapan pendidikan perlu juga disinergikan dengan tuntutan kompetisi. Oleh karena itu dimensi daya saing dalam SDM semakin menjadi faktor penting sehingga upaya memacu kualitas SDM melalui pendidikan merupakan tuntutan yang harus dikedepankan.
Disisi berdasarkan laporan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang dirilis United Nation Development Program (UNDP) 2009, Indonesia berada para peringkat ke-111, jauh dibawah negara-negara ASEAN lainnya. Posisi IPM Indonesia yang ke-111 ini menunjukkan bahwa penurunan peringkat dari 107 pada 2007 lalu, kualitas pembangunan manusia Indonesia khususnya di bidang kesehatan dan pendidikan, tidak lebih baik dari sebelumnya.
Pada tahun 2009 saja, pemerintah harus membayar utang sebesar Rp179,53 triliun atau sekitar 20,57 persen dari APBN. Jumlah tersebut jauh lebih besar dibanding alokasi anggaran untuk pendidikan Rp 87,46 triliun (10,02 persen) dan kesehatan Rp 16,44 triliun (1,89 persen).
Pada tahun 2010 UNDP merilis, IPM Indonesia antara tahun 1980 hingga 2010 naik sebesar 1,4 persen. Dengan pencapaian tersebut, Indonesia berada pada rangking 108 dari 169 negara di dunia.
Dari latar belakang diatas, timbul sebuah pemikiran dari generasi muda untuk mendirikan sebuah lembaga kajian dan edukasi terhadap pengembangan SDM di Indonesia yang diberi nama Institite for Human Development Indonesia (IHDI). Dengan kehadiran lembaga ini kiranya dapat memberikan konstribusi yang riil terhadap pengembangan SDM Indonesia lebih baik dimasa yang akan datang.
2. Visi dan Misi
Visi :
Terwujudnya Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia yang berkualitas dan mandiri, yang mengacu kepada Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
Misi :
1. Melakukan penelitian dan kajian dibidang pendidikan, kesehatan perekonomian masyarakat sebagai acuan program peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM);
2. Mengembangkan pelatihan, pendidikan dan penyuluhan yang berkesinambungan guna terwujudnya SDM berkualitas dan mandiri;
3. Membangun budaya saling percaya, kekeluargaan dan menghargai yang menjadi modal dasar pembangunan disegala bidang.
3. Susunan Pengurus
Direktur Eksekutif : Tongam Sinambela, SE, MM
Divisi Pendidikan, Pelatihan dan Kebudayaan : Sahat Dohar Manullang, S.Pd
Divisi Komunikasi dan Informatika : Tobias Duha, Amd
Divisi Penelitian dan Pengembangan (Litbang) : Jhon Franata Hasibuan, SE
Divisi Ekonomi dan UMKM : Dian Siskawati, SE
Divisi Hubungan Kerjasama Antar Lembaga : Yustinus Paat
Kesekretariatan : Lamma Verawaty, S.Pd
Ampetua Silalahi
Ka. Keuangan : Dorma Elisabeth