Tawuran dan drama korupsi di media massa telah menunjukkan adanya kondisi darurat dalam pendidikan nilai di sekolah dan keluarga kita.
Apa yang terjadi mungkin menunjukkan bahwa pendidikan nilai adalah mengenai keteladanan. Di sekolah, sehebat apapun guru menerangkan apa itu kejujuran dan akibatnya bila tidak jujur, pada akhirnya siswa tidak percaya jika gurunya sendiri tidak jujur. Hal seperti itu menjadikan kejujuran sebagai bahan tertawaan dengan cap “sok suci” bagi yang mengamalkannya.
Selain itu, seorang pendidik tidak mungkin mengajarkan apa yang tidak ia yakini. Yang diperlukan saat ini adalah para pengajar yang meyakini nilai-nilai keluhuran pekerti dan integritas. Berhenti pada “tahu” saja tidaklah cukup karena pendidikan nilai berbeda dengan pendidikan ilmu pengetahuan. Dalam mendidik ilmu pengetahuan, seseorang menguasai ilmu tertentu dan menransferkannya kepada para siswa. Namun, dalam mendidik nilai, guru perlu untuk menghayati nilai tertentu agar ia dapat menransferkannya kepada para siswanya.
Ambilah contoh, seorang koruptor tahu bahwa korupsi adalah sebuah tindakan kriminal dan merugikan rakyat, tetapi pengetahuan tentang hal itu tidak cukup untuk menghentikannya dari tindakan korupsi. Ia mungkin tahu bahwa korupsi itu sebuah tindakan melanggar hukum, tetapi justru yang ia percayai dan yakini adalah bahwa jika tidak ketahuan, toh ia akan selamat. Keyakinan itulah yang justru mengarahkannya kepada tindakan-tindakan korup.
Oleh karena itu, kita tidak bisa menafikan bahwa pendidikan nilai sesungguhnya bukan hanya di sekolah, melainkan juga bertumpu pada keluarga. Jika kita percaya keluarga membentuk masyarakat, maka masyarakat yang baik akan tercipta apabila kita memiliki keluarga yang menjunjung tinggi nilai-nilai keluhuran. Sayangnya, polemik tentang pendidikan karakter jarang mengacu pada kompleksnya persoalan keluarga kita dalam kehidupan sehari-hari.
Sudah jamak kita temukan, seorang anak dalam sebuah keluarga dinilai sukses seringkali karena ukuran materi atau penampilan lahiriah, alih-alih karakter. Orangtua puas dan bahagia bila sang anak telah mampu membeli mobil atau rumah, syukur-syukur yang mewah, tanpa menanyakan dari mana uang mereka berasal. Atau, orangtua memuaskan keinginan anak-anak dengan mencari segala macam cara agar mendapat uang, tidak peduli haram caranya. Contoh lain, anak dipaksa mendapatkan hasil terbaik dalam tes dengan menghalalkan contek-mencontek dan membeli kunci jawaban. Itu semua menunjukkan masih banyaknya persoalan keluarga yang sesungguhnya merupakan kunci bagi pembangunan karakter, tetapi luput dari pembicaraan di ruang publik.
Demikianlah, pendidikan nilai di sekolah adalah bagian tidak terpisahkan dari apa yang terjadi di tengah masyarakat. Jelaslah kita sedang berada dalam keadaan darurat pendidikan nilai. Apa yang terjadi seharusnya menjadikan kita terperangah dan segera bertindak. Adalah sangat bagus sebuah sekolah memiliki siswa bermedali, berprestasi, dan berpiala. Akan tetapi, sikap berdisiplin dan bermoral-lah yang sedang kita butuhkan saat ini. Piala dan prestasi akan hampa maknanya jika tanpa akhlak mulia.
Sumber: http://edukasi.kompasiana.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar